“Bertani Efektif ala Baitul Maal Desa Amanah, Bantul”

Para petani di Maguwo, Kec. Banguntapan, Kab. Bantul, patut bergembira karena hasil panen mereka kini telah meningkat menjadi 6,3 ton dari sebelumnya 4-5 ton per hektar. Pernyataan ini disampaikan oleh Ibu Dra. Zulfah Laila, seorang pengurus BMD (Baitul Maal Desa) Amanah yang menjadi pembina dari petani di Banguntapan. Lebih lanjut, beliau mengatakan bahwa para petani binaan BMD Amanah bekerjasama dengan DD (Dompet Dhuafa) Yogyakarta telah menggunakan sistem pertanian semiorganik dengan memadukan teknologi pupuk hayati AGROBOST dan pupuk kimia secara konvensional (urea, KCl, dan SP-36).

Bahkan salah seorang petani binaan BMD Amanah telah mampu mengurangi penggunaan pupuk kimia hingga mencapai 75%. Penebaran pupuk urea cukup dilakukan sekali saja, yaitu saat padi berusia 5 hari. Alasannya setelah menggunakan pupuk hayati AGROBOST 3 hari sebelum musim tanam dan urea pada usia 5 hari, kondisi daun sudah cukup bagus dan hijau. Selanjutnya ia cukup menggunakan pupuk hayati AGROBOST pada usia 10 hari, 30 hari, dan saat padi bunting. Penggunaan urea pada usia 20 hari tidak lagi dilakukan.

Keberhasilan para petani binaan BMT Amanah ini mendorong para petani lain disekitarnya untuk mencontoh rekan-rekannya yang sudah terlebih dahulu menuai sukses. Bu Zulfah mengaku bahwa para konsumen beras puas dengan hasil padi yang dijualnya karena berasnya lebih pulen dan enak. Berbeda dengan beras produksi kebanyakan. Saat ini, para petani binaan BMT Amanah sedang menunggu panen kedua yang diprediksi akan meningkat hingga 7-8 ton.

Dengan penggunaan pupuk hayati AGROBOST, petani dapat malakukan efesiensi biaya pembelian pupuk urea dan lainnya hingga 50%. Keuntungan lainnya, produksi gabah meningkat hingga mencapai 8 ton/ha. Biaya jasa pemangkasan gulma pun menjadi nol. Hal ini dikarenakan tinggi padi telah mampu menghalangi sinar matahari sampai ke tanah saat gulma seharusnya mulai tumbuh. Gulma pun tidak jadi tumbuh.

Penanaman padi saat ini kembali lagi melirik sistem pertanian organik setelah harga pupuk kimia (urea, KCl, dsb) naik serta mengalami kelangkaan. Tambahan lagi, kondisi tanah saat ini sudah mengalami kritis dan sudah pada titik jenuh sehingga produksi padi tidak dapat lagi meningkat bahkan cenderung menurun. Oleh karena itu teknologi organik merupakan salah satu solusi untuk kembali meningkatkan produktifitas padi.

Biasanya para petani menggunakan pupuk kompos dari kotoran sapi sebagai pengganti pupuk kimia. Namun penggunaan pupuk kompos ini cukup merepotkan karena membutuhkan kotaran sapi dalam jumlah banyak, kurang lebih 5 ton/hektar. Hal ini tentu saja sulit dipenuhi karena produksi kotoran sapi tidak dapat memenuhi permintaan nasional.

Kontak Person BMD AMANAH : Bapak Daru +628164272824

About Juragan Agrobost

Saya Pemerhati Petani dan saya adalah petani, Saat ini saya adalah ketua Persaudaraan Masyarakat Tani Indonesia (Permata) Yogyakarta, untuk menunjang kegiatan Bisnis agar bisa membantu Petani saya Mendirikan CV. Permata Agrindo Lihat semua pos milik Juragan Agrobost

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: